Jelang siang mentari tak tertahan teriknya. Kala sang pembungkus badan meneriakkan lagu kepanasan, maka peluh bercucuran menggerayangi sekujur badan. Adakah penyeka wajah yang lembut mnegenag jiwa, dengan elusan bak sutra supra...?
Sahabat kenapa berbentuk kabut menyelimuti seluruh hidup dan perjuanganku...? Adakah terpikir dalam rencanamu untuk mnghaempaskannku dari relung langit biru...? Mengapa mtahari tak lagi datang mengulurkan cahaya terangnya bagiku, namun cuma radiasi panas tanpa guyuran sang wareh...? Sahabat sejati kan datang dengan sapaan yang berjajar, bukan melentingkan plencungan dengan mata plencung menrunduk pada tengkuk.... . Bataskah erjalanan itu menjadi ujung dari sebuah kebersamaan...?
Sahabat, kenapa kau pegang gunting dan kau tusukkan ke pantatku yang tengah duduk melerai sauh...? APa gerangan yang megubah gelak tawamu menjadi gelak seruan dengki...?
Wahai tatapan matahati, jangan kau tercundangi oleh keangkuhan dunia, pandanglah dengn tajam, apa yang terpampang dalam lajur loji itu...?!!!
Jumat, 03 Juli 2009
Sabtu, 18 April 2009
Lilin Pengharapan
Ketika situasi kurang menguntungkan, atau kurang menyenangkan, maka bathin diri kita pun mengalami pergolakan. Pergolakan yang tak bisa selesai ketika kita belum menemukan senyuman mata hati kita yang paling dalam. Ada empat pilar berbayang dalam kedalaman hati kita. Apa itu ? So keempatnya memiliki ruang gerak yang berbeda meski dalam satu kesatuan makna.
Pertama adalahIman/keyakinan. Tiap orang punya keyakinan, entah kepada apa aatau siapa. Jika lilin keyakinan ini mati, maka kita akan kehilangan kepercayaan. Tak kan tersisa barang secuilpun. Ketika kita mengalami berbagai penderitaan, cobaan, keterpurukan dan saudara-saudaranya, maka kita kehilangan iman/kepercaayaan. Apalgi ketika ita telah meniadakan Yang Maha Pencipta dari kehidupan kita.
Kedua Kasih. jika kasih meninggalkan kita tatkala kita merasa marah, cemburu, sakkit hati, kesal dan kroni-kroninya, maka hilanglah kasih ita. Ta mampu kita menampakkan kasih, bahkan tak mampu sekedar mendemokan kasih bagi orang lain.Yang tertemukan hanya ketiddaknyamanan an ketidakbahagiaan belaka. Itulah kematian lilin kasih dalam dri kita.
Ketiga Persahabatan/persaudaraan. Sebagai makhluk pribadi/unik, kita tak bisa menghindari kalau kita juga sekaligus makhluk sosial. Dan itu satu - satunya wadah eksploitasi diri berkiprah di dunia nyata. Bukan tergantung, melainkan kita tak mampu sendirian. Percayalah, kegiatan apakah yang bisa dilakukan seorang diri tanpa campur tangan dan campur kaki orang lain ... ?
Jika lilin persahabatan mati, apalah artinya hidupmu?
Keempat, tapi jangan khawatir. Andai ketiganya mati, dan jika anda punya nyala lilin yang keempat ini, niscaya anda masih dalam batas terselamatkan. Apakah itu ???????? Nyala lilin pengharapan. Jangaaaaaaaaan sampai lilin pegharapan itu mati saudaraku. Sebab jika lilin pengharapan itu mati, mati pulalah matahatimu. The End """
Pertama adalahIman/keyakinan. Tiap orang punya keyakinan, entah kepada apa aatau siapa. Jika lilin keyakinan ini mati, maka kita akan kehilangan kepercayaan. Tak kan tersisa barang secuilpun. Ketika kita mengalami berbagai penderitaan, cobaan, keterpurukan dan saudara-saudaranya, maka kita kehilangan iman/kepercaayaan. Apalgi ketika ita telah meniadakan Yang Maha Pencipta dari kehidupan kita.
Kedua Kasih. jika kasih meninggalkan kita tatkala kita merasa marah, cemburu, sakkit hati, kesal dan kroni-kroninya, maka hilanglah kasih ita. Ta mampu kita menampakkan kasih, bahkan tak mampu sekedar mendemokan kasih bagi orang lain.Yang tertemukan hanya ketiddaknyamanan an ketidakbahagiaan belaka. Itulah kematian lilin kasih dalam dri kita.
Ketiga Persahabatan/persaudaraan. Sebagai makhluk pribadi/unik, kita tak bisa menghindari kalau kita juga sekaligus makhluk sosial. Dan itu satu - satunya wadah eksploitasi diri berkiprah di dunia nyata. Bukan tergantung, melainkan kita tak mampu sendirian. Percayalah, kegiatan apakah yang bisa dilakukan seorang diri tanpa campur tangan dan campur kaki orang lain ... ?
Jika lilin persahabatan mati, apalah artinya hidupmu?
Keempat, tapi jangan khawatir. Andai ketiganya mati, dan jika anda punya nyala lilin yang keempat ini, niscaya anda masih dalam batas terselamatkan. Apakah itu ???????? Nyala lilin pengharapan. Jangaaaaaaaaan sampai lilin pegharapan itu mati saudaraku. Sebab jika lilin pengharapan itu mati, mati pulalah matahatimu. The End """
Jumat, 27 Maret 2009
Hati Mati Karena Janji
Janji bagai petir yang datang tanpa kompromi, jika mnagihnya. Karenanya janganlah mudah berjanji. Apalagi janji yang setinggi langit, segera kan mukswa ( hilang ) bersama mega. Jadi apa yang mesti kita pahami?
Niat, niat yang tulus merupakan janji yang akan dengan mudah dilakukan atau ditepati. Kenapa? tanyakan mata hatimu! orang jogja bilang DAGADU... . "Mata hati akan mengaih janjimu yang telah kau ucapkan!" kata Semar. "Bagimana kamu akan membangu dunia ini, jika hanya janji dan janji.... akan tetapi, susunlah niatmu dalam sebuah kasanah budaya yang netral, tanpa tunggangan apapun, dan kemudian, lakukan seperti apa yang kamu niatkan. Jadi niat lebih mulia daripada janji yang miring dan tak dapat dipertanggungjawabkan." demikian nasehat Ki Lura Semar. Setuju ? Tanyakan mata hatimu !
Jangan mrancang niat yang jahat, karena sebelum dirancang sudah jahat, apalah hasilnya? Tentu biang kejahatan......... .
Kamis, 26 Maret 2009
Nama Itu Tak Pernah Berubah
Konon sejak bermulanya manusia, mata hati telah dilahirkan dan menyertainya senantiasa. bangsa kurun mana yang tak pernah mendengar? yakinlah tiada. Tentu, setiap manusia yang bermata hati, akan mendengarnya setiap saat bahkan setiap detak nadinya alias sepanjang nafasnya ada. Kata hati menatap dunia dari zaman purbakala, zaman batu, maupun zaman kini yang berhiaskan warna -warni dan pernik kehidupan ini.
mari kita mulai, melihat seluruh raga dan jiwa kita, apakah kita masih merasakan memiliki mata hati? Masih bisakah kita melihat sesuatu dengan garis vertikal dan horisontal ..........?
mari kita mulai, melihat seluruh raga dan jiwa kita, apakah kita masih merasakan memiliki mata hati? Masih bisakah kita melihat sesuatu dengan garis vertikal dan horisontal ..........?
Ki Soerya Mentaram mengungkapkan dalam tulissannya : Jiwa yang imbang adalah jiwa yang mampu meniti kedua garis dalam kehidupan nyata. Ketika seseorang meraba dadanya dan mengatakan " ya Tuhan.... terimakasih ... " maka nama itu masih utuh, dan tak pernah berubah. Tetap "matahati" yang akan memberikan komposisi balancing dalam pola laku dan celatunya( perkataan =perbuatan).
Saudaraku, mari merogoh kedalaman jiwa kita, masih adakah mathati kita di tengah hingar bingar globalisasi, meski telah diramalkan oleh Ki Jagabaya selebritis Kediri pada masanya.
Langgan:
Entri (Atom)
