Jumat, 27 Maret 2009

Hati Mati Karena Janji

Janji bagai petir yang datang tanpa kompromi, jika mnagihnya. Karenanya janganlah mudah berjanji. Apalagi janji yang setinggi langit, segera kan mukswa ( hilang ) bersama mega. Jadi apa yang mesti kita pahami?
Niat, niat yang tulus merupakan janji yang akan dengan mudah dilakukan atau ditepati. Kenapa? tanyakan mata hatimu! orang jogja bilang DAGADU... . "Mata hati akan mengaih janjimu yang telah kau ucapkan!" kata Semar. "Bagimana kamu akan membangu dunia ini, jika hanya janji dan janji.... akan tetapi, susunlah niatmu dalam sebuah kasanah budaya yang netral, tanpa tunggangan apapun, dan kemudian, lakukan seperti apa yang kamu niatkan. Jadi niat lebih mulia daripada janji yang miring dan tak dapat dipertanggungjawabkan." demikian nasehat Ki Lura Semar. Setuju ? Tanyakan mata hatimu !
Jangan mrancang niat yang jahat, karena sebelum dirancang sudah jahat, apalah hasilnya? Tentu biang kejahatan......... .

Kamis, 26 Maret 2009

Nama Itu Tak Pernah Berubah

Konon sejak bermulanya manusia, mata hati telah dilahirkan dan menyertainya senantiasa. bangsa kurun mana yang tak pernah mendengar? yakinlah tiada. Tentu, setiap manusia yang bermata hati, akan mendengarnya setiap saat bahkan setiap detak nadinya alias sepanjang nafasnya ada. Kata hati menatap dunia dari zaman purbakala, zaman batu, maupun zaman kini yang berhiaskan warna -warni dan pernik kehidupan ini.
mari kita mulai, melihat seluruh raga dan jiwa kita, apakah kita masih merasakan memiliki mata hati? Masih bisakah kita melihat sesuatu dengan garis vertikal dan horisontal ..........?
Ki Soerya Mentaram mengungkapkan dalam tulissannya : Jiwa yang imbang adalah jiwa yang mampu meniti kedua garis dalam kehidupan nyata. Ketika seseorang meraba dadanya dan mengatakan " ya Tuhan.... terimakasih ... " maka nama itu masih utuh, dan tak pernah berubah. Tetap "matahati" yang akan memberikan komposisi balancing dalam pola laku dan celatunya( perkataan =perbuatan).
Saudaraku, mari merogoh kedalaman jiwa kita, masih adakah mathati kita di tengah hingar bingar globalisasi, meski telah diramalkan oleh Ki Jagabaya selebritis Kediri pada masanya.